Rabu, 04 Mei 2022

 3.1.a.7. Demontrasi Kontekstual -Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin pembelajaran

Erni Nurnaningsih SMP N 1 Salan 

CGP Angkatan 4 Kab. Magelang


 

 

Alhamdulilah wa syukurillah itu adalah kata yang selalu saya panjatkan kehadirat Alloh S. W. T atas semua nikmat dan karunia yang telah anugerahkan kepada saya. Diantara nikmat yang Alloh anugrahkan kepada saya adalah nikmat sehat dan semangat yang membara sehingga saya bisa mengikuti kegiatan Guru Penggerak ini sampai sekarang sudah memasuki modul 3.1. Banyak rintangan dan hambatan serta tantangan yang harus saya lalui. Kerikil tajam dan onak duri tentunya mewarnai perjalanan kami bersama teman teman CGP yang lain. Semua tantangan ini menjadi semakin hebat  dan semakin menyalakan untuk menyongsong kami menggapai impian menjadi Guru Penggerak. Sebagai bentuk tanggung jawab kami dalam pengikuti PPGP. Semua rasa malas, rasa capai, rasa lelah harus kami lawan di tengah segala keterbatasa kami. Kami harus pandai pandai dan cakap dalam membagi waktu antara mengerjakan kewajiban  sebagai pendidik yang tidak boleh ditinggalkan disamping ada kewajiban tambahan yang melekat pada tugas tigas yang diampu, Juga kewajiban dalam melaksanakan dan menyelesaikan PPGP. Apalagi sebagai seorang muslim kita juga dalam suasana bulan Romadlon bulan penuh ampunan yang ditunggu oleh umat islam. Betul betul penerapan dilema etika. Ilmu yang baru saja dipelajari dalam PPGP ini betul betul harus diterapkan dan diterapkan dalam situasi yang terjadi saat ini. Ilmu yang saya dapatkan dalam PPGP ini tentunya  besar sekali manfaat  yang bisa saya ambil. Mulai dari modul 1 sampai modul 3. tinggap beberapa langkah untuk menyelesaikan dengan baik.

 

Salah satu materi yang saya pelajari dalam program guru penggerak ini adalah pengambilan keputusan. Sebagai pendidik kita sering kali diperhadapkan pada situasi dimana kita harus mengambil keputusan yang tepat. Dalam modul 3.1 itu dijelaskan, ada yang namanya dilema etika dan bujukan moral Apa itu dilema etika dan bujukan moral? berikut penjelasannya.

Dilema etika itu adalah kondisi dimana seseorang harus mengabil salah satu keputusan dari benar dan benar, ini sulit karena keduanya sama-sama benar. Dilema etika ini dikategorikan menjadi 4 yaitu:.

1. Individu lawan masyarakat (individual vs community)

Dalam paradigma ini ada peratentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini menjadi bagianya . bisa juga konflik antara kepentingan pribadi melawan kepentingan orang lain atau kelompok kecil melawan kelompok besar. 

2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan sayang di sisi lain.

3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika .Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara perilaku jujur dan setia atau bertanggung jawab kepada orang lain. Apakah kita akan jujur menyempaikan informasi berdasarkan fakta atau kita akan menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya.

4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatanya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang. Paradigma ini bisa terjadi di level personal dan permasalahan sehari hari, atau pada level yang lebih luas misalnya pada isue isue dunia secara global, misalnya lingkungan hidup dan lain lain

Berdasaran diagram di atas, pengambilan keputusan dibagi atas 3 macam yaitu:

1. Berfikir berbasis hasil akhir (End Based Thingking)

2. Berfikir Berbasis Rasa Peduli ( Care Based Thingking)

3. Berfikir Berbasis Peraturan (Rule Based Thingking)

3 prinsip pengambilan keputusan tersebut dapat digunakan untuk memetakan permasalahan yang sedang terjadi, sehingga dapat meminimalisir kesalahan-kesalahan yang dapat di timbulkan. Untuk mendapatkan keputusan terbaik, perlu dilakukan pengujian-pengujian. hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan, yaitu:

1. Menggali nilai-nilai yang bertentangan

2. Mengidentifiasi siapa yang terlibat

3. mengumpulan fakta-fakta yang relevan

4. pengujian benar atau salah

5. Buat keputusan

6. Identifikasi opsi trilema

7. melakukan prinsip resolusi

8. Paradigma pengujian benar lawan benar

9. lihat lagi keputusan dan refleksikan.

Bagaimana Anda nanti akan mentransfer dan menerapkan pengetahuan yang Anda dapatkan di program guru penggerak ini di sekolah/lingkungan asal Anda? 

Saat ini saya pindah sekolah. Dari semula SMP Muh Ngluwar sekaarang menjadi pendidik di SMP 1 Salam. Dengan berpindahnya unit kerja tersebut tentunya memerlukan suatu pemikiran tersendiri sebagi seorang Calon Guru Penggerak. Hal pertama yang saya lakukan adalah ketika memperkenalkan diri kepada Bapak  KS, Wakil Kepala Sekolah dan rekan rekan sejawat saya memperkenalkan diri sebagai seorang CGP Angkatan 4 Kabupaten Magelang.  Saya di sini harus belajar untuk menyesuaikan diri dengan baik, sebagai seorang CGP saya harus menjadi contoh dan teladan serta role model yang akan diamati dan ditiru oleh teman teman yang lain dengan demikian maka harus bisa menerapkan ilmu yang saya dapatkan dalam PPGP ini dengan baik.  Baik dalam tingkah laku maupun dalam perbuatan sehari sehari baik sebagai seorang pendidik maupun secara personal.

Apa langkah-langkah awal yang akan Anda lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran?

1. Melakukan diskusi ringan dengan teman sejawat saya mengenai permasalahan apa yang tengah dan sering mereka hadapi di sekolah, baik dengan siswa ataupun masalah dalam pekerjaannya

2. Memetakan permasalahan yang sedang dihadapi atau yang sedang terjadi di sekolah, apakah termasuk dilema etika atau bujukan moral

3. Meminta izin kepada kepala sekolah untuk mengadakan sosialisasi kepada rekan-rekan sejawat, dan mengagendakan waktu pelaksanaannya, sehingga mengganggu jam wajib guru.

4. melakukan sosialisasi kepada rekan-rekan sesama guru mengenai langkah-langkah pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

5. Mendampingi teman sejawat dalam penerapan pengambilan keputusan berdasarkan dilema yang sedang mereka hadapi.

6. melakukan evaluasi mengenai sejauh mana pemahaman teman sejawat mengenai sosialisasi yang telah saya lakukan.

Mulai kapan Anda akan menerapkan langkah-langkah tersebut, hari ini, besok, minggu depan, hari apa? Catat rencana Anda, sehingga Anda tidak lupa.

Segera setelah urusan saya baik urusan  administrasi dengan sekolah lama , maupun kewajiban saya sebagai pendidik diselesaikan. Saya akan berkoordinasi dan meminta izin kepada KS dan  Waka untuk menentukan waktu yang tepat. Paling lama ketika murid murid melakukan PAT

Siapa yang akan menjadi pendamping Anda, dalam menjalankan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran? Seseorang yang akan menjadi teman diskusi Anda untuk menentukan apakah langkah-langkah yang Anda ambil telah tepat dan efektif.

Yang pertama adalah pengajar praktik yaitu Ibu Euis Rosmalina, S. Pd. Gr yang selalu mendampingi kami, Teman CGP tempat kami bertukar pikiran  sehingga bisa saling memberikan umpan balik atau releksi dari semua praktik baik yang telah kami laksankan, Waka Kurikulum sebagai senior yang  senantiasa memberikan masukan dan bimbingan untuk saya KS sebagai  atasan langsung kita yang bertanggung jawab terhadap semua kewajiban saya. Juga  rekan rekan sejawat yang senior dan yunior tentunya akan memberikan beberapa masukan yang positif dan membangun tempat saya belajar karena saya adalah guru baru dan warga baru tentunya masih belum paham betul  tentang segala sesuatu  di SMP 1 Salam baik murid maupun lingkungan.

 

 

Minggu, 24 April 2022

 

Modul 3.1.a.9 Koneksi Antar Materi:

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Erni Nurnaningsih

SMP Muh Ngluwar

CGP Angkatan 4 Kab. Magelang

Fasilitator: Drs. Amik Setiaji, M. Pd

Pengajar Praktik : Euis Rosmalina, S. Pd. Gr

 


1. Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Pratap Tri Loka yang dibawah oleh Ki Hajar Dewantara yang sangat terkenal dengan filosofi yakni ing ngarso sun tulodho, ing madyo mangun karsa, tut wuri handayani yang artinya adalah  bahwa kita di depan harus memberi teladan atau sebagai contoh yang bisa untuk di tiru, di tengah harus bisa memberikan suatu dorangan atau motivasi yang kuat di  belakang harus bisa memberikan suatu dorongan. Hal ini perlu kita lakukan apalagi kita sebagai seorang pendidik harus bisa memberikan amanat yang diberikan kepada kita agar kita bisa menuntun anak sesuai kodratnya. Baik kodrat alam maupun kodrat zaman. Dalam menuntun di sini perlu suatu pemahaman atau persepsi yang sama antar kemauan anak dan kemauan kita sebagai pendidik. Di sini pentingnya kita dalam membuat atau mengambil keputusan harus berpihak pada anak. artinya bahwa apa yang kita lakukan bukan untuk keinginan kita, apa mau kita. tetapi dalam mengambil suatu keputusan harus berpihak pada anak untuk membantu mereka mencapai kebahagiaan yang setinggi tingginya sesuai dengan keinginan anak agar apa yang diambil bisa bermanfaat untuk membantu mereka mencapai tujuannya.  Tugas kita hanya menuntun mereka untuk mencapai kebahagiaan yang sesuai dengan keinginanya. Berdasarkan hal tersebut maka seorang pendidik dalam mengambil suatu keputusan harus berdasarkan pada 3 prinsip pengambilan keputusan dan menggunakan 9 langkah pengambilan keputusan yang sudah kita pelajari. Hal ini penting untuk mengambil langkah langkah agar keputusan yang kita ambil tepat dan berpihak pada anak.

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Setiap guru seharusnya  memiliki nilai-nilai positif yang sudah tertanam dalam dirinya. Nilai-nilai positif yang mampu mempengaruhi dirinya untuk menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid. Nilai nilai kebajikan yang kita tanamkan tersebut tidak jarang kita dapatkan dalam budaya positif yang sudah kita dapatkan dari nenek moyang kita sebagai suatu karakter yang kuat yang harus dimiliki oleh seseorang pendidik. Selain itu dalam nilai nilai kebajikan tersebut mengandung suatu moral dan etika yang mencerminkan karsa dan etika untuk membangun kesadaran moral. Nilai dan moral inilah yang harus kita miliki dalam mengambil suatu keputusan agar tetap melekat dalam jiwa kita. Sehingga meskipun keputusan yang kita ambil mengandung suatu dilema tetapi dilema etika yang kita lakukan tentunya mempunyai konskuensi bahwa keputusan yang kita ambil adalah keputusan yang berpihak pada anak. Diantar nilai nilai kebajikan yang kita dapatkan adalah nilai kejujuran, tanggung jawab. displin, gorong royong, kerjasama dan lain lain. 

3. Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Coaching adalah ketrampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Dengan langkah coaching TIRTA, kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat pemecahan masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apaila dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil.

Pembimbingan yang telah dilakukan oleh pendamping praktik dan fasilitator telah membantu saya berlatih mengevaluasi keputusan yang telah saya ambil. Apakah keputusan tersebut sudah berpihak kepada murid, sudah sejalan dengan nilai-nilai kebajikan universal dan apakah keputusan yang saya ambil tersebut akan dapat saya pertanggung jawabkan. Atau keputusan yang saya ambil harus ditinjau ulang karena  bukan keputusan yang berpihak pada murid.

TIRTA merupakan model coaching yang dikembangkan dengan semangat merdeka belajar. Model TIRTA menuntut guru untuk memiliki keterampilan coaching. Hal ini penting mengingat tujuan coaching, yaitu untuk melejitkan potensi murid agar menjadi lebih merdeka. TIRTA adalah satu model coaching yang diperkenalkan dalam Program Pendidikan Guru Penggerak saat ini. TIRTA dikembangkan dari Model GROW. GROW adalah akronim dari Goal, Reality, Options dan Will.

Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini,

Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee,

Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi.

Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.TIRTA akronim dari :

: Tujuan

: Identifikasi

: Rencana aksi

TA: Tanggung jawab

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Sebagai seorang pendidik, kita harus mampu mengerti bahwa murid memiiki  perbedaan minat dan gaya belajar serta profil  belajar  murid yang berbeda  di kelas sehingga dalam proses pembelajaran murid mendapatkan pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai profil belajar mereka masing-masing. Untuk itu diperlukan pengambilan keputusan yang tepat agar seluruh kepentingan murid dapat terakomodir dengan baik. Kompetensi sosial dan emosional diperlukan agar guru dapat fokus memberikan pembelajaran dan dapat mengambil keputusan dengan tepat dan bijak sehingga dapat mewujudkan merdeka belajar di kelas maupun di sekolah.

5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Keberpihakan dan mengutamakan kepentingan murid dapat tercipta dari tangan pendidik yang mampu membuat solusi tepat dari setiap permasalahan yang terjadi. Pendidik yang mampu melihat permasalahan dari berbagai kaca mata dan pendidik yang dengan tepat mampu membedakan apakah permasalahan yang dihadapi termasuk dilema etika ataukah bujukan moral.

Seorang pendidik ketika dihadapkan dengan kasus-kasus yang fokus terhadap masalah moral dan etika, baik secara sadar atau pun tidak akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang dianutnya. Nilai-nilai yang dianutnya akan mempengaruhi dirinya dalam mengambil sebuah keputusan. Jika nilai-nilai yang dianutnya nilai-nilai positif maka keputusan yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggung jawabkan dan begitupun sebaliknya jika nilai-nilai yang dianutnya tidak sesuai dengan kaidah moral, agama dan norma maka keputusan yang diambilnya lebih cenderung hanya benar secara pribadi dan tidak sesuai harapan kebanyakan pihak. Nilai-nilai yang dianut oleh Guru Penggerak adalah reflektif, mandiri, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada anak didik. Nilai-nilai tersebut akan mendorong guru untuk menentukan keputusan masalah moral atau etika yang tepat sasaran, benar dan meminimalisir kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan yang dapat merugikan semua pihak khususnya peserta didik.

6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat tekait kasus-kasus pada masalah moral atau etika hanya dapat dicapai jika dilakukan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dapat dipastikan bahwa jika pengambilan keputusan dilakukan secara akurat melalui proses analisis kasus yang cermat dan sesuai dengan 9 langkah tersebut, maka keputusan tersebut diyakini akan mampu mengakomodasi semua kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat , maka hal tersebut akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

7. Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Jawaban saya yaitu iya, kesulitan muncul karena masalah perubahan paradigma dan budaya sekolah yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Diantaranya adalah sistem yang kadang jika memaksa guru untuk memilih pilihan yang salah atau kurang tepat dan tidak berpihak kepada murid. Yang kedua tidak semua warga sekolah berkomitmen tinggi untuk menjalankan keputusan Bersama. Yang ketiga keputusan yang diambil kadang kala tanpa sepenuhnya melibatkan guru sehingga muncul banyak kendala-kendala dalam proses pelaksanaan pengambilan keputusan. yang keempat adalah kurangnya pengetahuan dari kami dalam mempelajari bagaimana mengambil keputusan yang tepat. 

8. Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Selama ini mungkin saya melakukan dengan tujuan untuk membuat keputusan yang berpihak pada anak. Meskipun waktu itu sebelum mempelajari materi ini pengambilan keputusan yang kami ambil belum mengikuti 9 langkah pengambilan keputusan. Sesuai dengan urutanya. Hanya saja yang kami lakukan adalah berbasis rasa perduli dan kasihan . Yaitu bagaiman agar hak hak anak tetap dapat terpenuhi tanpa mengorbankan yang lain. 

9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Ketika guru sebagai pemimpin pembelajaran melakukan pengambilan keputusan yang memerdekakan dan berpihak pada murid, maka dapat dipastikan murid-muridnya akan belajar menjadi oang-orang yang merdeka, kreatif , inovatif dalam mengambil keputusan yang menentukan bagi masa depan mereka sendiri. Di masa depan mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang matang, penuh pertimbangan dan cermat dalam mengambil keputusan-keputusan penting bagi kehidupan dan pekerjaannya. 

Keputusan yang diambil oleh seorang guru akan menjadi ibarat pisau yang disatu sisi apabila digunakan dengan baik akan membawa kesuksesan dalam kehidupan murid di masa yang akan dating. Demikian sebaliknya apabila kebutuhan tersebut tidak diambil dengan bijaksana maka bisa jadi berdampak sangat buruk bagi masa depan murid-murid. Keputusan yang berpihak kepada murid haruslah melalui pertimbangan yang sangat akurat dimana dilakukan terlebih dahulu pemetaan terhadap minat belajar, profil belajar dan kesiapan belajar murid untuk kemudian dilakukan pembelajaran berdiferensiasi yaitu melakukan diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk. Anak diberi kebebasan yang seluas luasnya untuk berkembang sesuai dengan minat bakat yang diingikannya dan ingin dikembangkan.

10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimplan yang didapat dari pembelajaran modul ini yang dikaitkan dengan modul-modul sebelumnya adalah :

Pengambilan keputusan adalah suatu kompetensi atau skill yang harus dimiiki oleh guru dan harus berlandaskan kepada filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran. Sebagai seorang pendidik kita harus bisa menuntun mereka untuk mencapai kemerdekaan yang setinggi tingginya. Dengan menciptakan budaya positif yang ada di sekolah sehingga iklim sekolah tercipta secara kondusif dan mengundang murid untuk belajar. Hal itu tentunya akan tercapai apabila kita bisa mengambil keputusan yang berpihak pada murid. Disinilah perlunya kita melaksanakan coaching dengan baik untuk bisa menggali dan mengembangkan potensi murid kita. Kita berperan sebagai teman, sahabat dan rekan sehingga tercipta kolaborasi yang tepat untuk menuntun mereka.


.

Sabtu, 02 April 2022

 KONEKSI ANTAR MATERI 

MODUL 2. 3 COACHING






Pembelajaran Berdiferensiasi

Adalah pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar individual murid . Defensiasi ini dimulai dengan memetakan kebutuhan belajar setiap murid berdasar profil belajar, minat dan kebutuhan belajat murid.Diferensiasi ini dilakukan dengan diferensiasi konten, diferensiasi proses serta diferensiasi produk. 

Pembelajaran Sosial dan Emosional 

Dalam pembelajaran sosial dan emosional tersebut kita banyak belajar tentang bagaimana kita dalam mengelola diri kita atau regulasi diri. Ada 5 KSE yang bisa  kita kembangkan  adalah  kesadaran diri,pengendalian diri, kesadaran diri,   Ketrampilan sosial dan Keputusan yang bertanggung jawab, Dengan KSE ini diharapkan kita bisa mengembangkan diri dengan baik dan mempunyai karakter yang kuat dalam kita melakukan pengendalian diri maupun dalam ketrampilan bersosialisasi dan berkomunikasi dengan baik . Komunikasi yang baik ini harus dilakukan kita sebagai guru baik sesama rekan sejawat, dengan murid dengan atasan juga dengan warga sekolah dan lingkungan masyarakat. 

Coaching 

Coaching merupakan bentuk kemitraan bersama antar coache untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimiliki melalui proses  yang menstimulus dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif . Dengan proses yang demikian maka seorang coach harus belajar komunikasi yang asertif dan reflektif.  Dengan komunikasi asertif tersebut diharpakan coach mampu menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh coachee. Hubungan kemitraan antar coach dan coache tersebut merupakan hubungan yang sejajar artinya mempunyai kedudukan yang sama. Jadi tidak ada yang merasa unggul. Jika tidak ada yang merasa unggul maka dalam berkomunikasi menjadi harmonis tidak ada rasa takut dari murid untuk bisa berbagi dan bercerita tentang harapan dan keinginaaya serta apa yang perlu digali dengan murid.

Antara pembelajaran bediferensiasi, KSE, dan coaching adalah 3 hal yang tidak bisa dipisahkan ketiga hal tersebut berjalan saling mengaitkan. Tujuannya adalah untuk menerapkan pada pemikiran KHD yakni menuntun. Menuntun ini adalah bagaimana kita bisa menggali dan mengembangkan potensi yang dimilikinya dengan optimal. Dalam proses menuntun ini kita sebagai seorang pamong harus memiliki pengetahuan yang lebih baik, Seperti yang diibaratkan oleh KHD bahwa guru adalah ibarat seorang pengukir yang memiliki kemampuan tentang kayu dan bahan bahan serta seni mengukir sehingga menghasilkan ukiran yang baik. Begitulah seharusnya seorang pendidik harus memiliki pengetahuan tentang seni mengukir, bedanya guru mengukir jiwa dan raga. Dari pemikiran tersebut maka saya bisa mengambil suatu kesimpulan bahwa seorang guru untuk bisa menuntun maka hendaknya seorang guru harus betul memahami karakter individual setiap murid. Nah untuk memenuhi kebutuhan individual tersebut baru dilaksanakan bila kita sudah melakuakan pembelajaran diferensiasi. Bila hal itu baru kita laksanakan berarti kita sudah paham individu murid kita dengan segala hal yang melekat dengannya baik, minat, karakter / watak, profil belajar dan kesiapan belajar masing masing. 

Setelah kita paham masing masing kemudian kita mulai menerapkan KSE. Dengan KSE ini kita bisa mudah untuk menerapkan proses murid kita, bagaimana harus berhadapan dengan murid yang mempunyai watak dan karakter yang berbeda. Juga kita bisa menanamkan banyak hal agar mereka tetapa berada dalam kesadaran penuh dan  aware dan menciptakan willbeing.

Setelah 2 hal tersebut kita lakukan selanjutnya dalam proses menuntun ini kita melakukan coaching. Coaching ini harus dilakukan agar bisa menuntun anak dengan bahasa yang nyaman dan aman. Coaching berbeda dengan mentor dan konselor. Dalam coaching hubungan komunikasi yang dibina adalah kolaborasi kemitraan. Dalam hal ini untuk menggali semua potensi anak hendaknya kita betul betul harus belajar menjadi pendengar yang baik. Mendengarkan mereka bercerita sudah merupakan modal bagi coach untuk membuat coachee nyaman. dari kenyamanan ini nanti murid akan lebih bisa bereksplorasi diri secara maksimal. Sehingga kewajiban kita adalah untuk menuntun mereka untuk mencapai kemerdekaan yang setinggi tingginya agar kebahagiaan tersebut berguna bagi dirinya baik secara individu maupun dalam bermasyarakat,

Mengingat pentingnya coaching ini dalam menggali potensi yang dimiliki oleh murid ini maka hendaknya kita betul betul mulai menerapkan coaching dengan banyak berlatih. Karena pada kenyataan yang saya alami saya masih rancu dalam menerapkan coaching. Kadang kadang saya masih menerapkan konselor atau mentor.







Kamis, 31 Maret 2022

 LAPORAN AKSI NYATA MODUL 2.2 KOMPENTENSI SOSIAL EMOSIONAL

ERNI NURNANINGSIH 

CGP ANGKATAN 4 KABUPATEN MAGELANG 

SMP MUHAMMADIYAH NGLUWAR



1. Latar Belakang
Serupa seperti para pengukir yang memiliki pengetahuan tentang keadaan kayu, jenis jenisnya keindahan ukiran dan cara cara mengukirnya. Seperti itulah seorang guru seharusnya memiliki pengetahuan mendalam tentang seni mendidik. Bedanya guru mengukir manusia yang memilikihidup lahir dan batin' KHD. Kalimat bermakna yang selalu saya ingat dan saya tanam dalam setiap gerak dan langkah saya dalam bertindak sebagai seorang pendidik. kalimat beliau itu mengilhami dalam gerak jiwa dan langkah saya. Arti saya dalam memahami meneurut kaca mata saya sebagai seseorang yang kurang dalam pengetahuan adalah bahwa seorang pendidik harus mempunyai pengetahuan yang luas tentang berbagai hal yang mendukung pengetahuan dan ketrampilannya dalam mendidik murid. Berangkat dari hal tersebut maka bisa saya simpulkan bahwa kita harus senantiasa mengasah kemampuan dalam mendidik murid dengan belajar dan belajar. Dengan belajar  kita bisa mengenali peserta murid, menggali potensi yang melekat pada mereka, Harapan yang ingin dicapai murid saya serta juga saya bisa menggali minat yang ingin dikembangkan oleh murid saya. Hal itu tentu tidak bisa saya lakukan bila saya juga tidak mengembangkan diri dalam belajar. Melalui PPGP inilah saya belajar untuk mengembangkan diri. Harapan yang ingin saya capai agar saya menjadi guru yang bisa menuntun anak anak untuk menghantarkan mereka mencapai kebahagiaan yang setinggi tingginya.

Memenuhi tugas dan kewajiban sebagai Guru Penggerak Pembelajaran daring menimbulkan suatu penurunan karakter Perlu motivasi dan strategi baru untuk memotivasi anak. Menanamkan mindfulness Pengenalan tehnik STOP


2. Tujuan Aksi Nyata

Aksi Nyata yang saya lakukan ini adalah  menerapakan pembelajaran yang sudah saya dapatkan dalam modul 2 yang dimulai dengan Pembelajaran Berdiferensiasi dilanjutkan dengan Kompetensi Sosial Emosional. Saya melakukan aksi nyata dengan tujuan yaitu:

Menerapkan mindfulness 

Menciptakan pembelajaran yang menyenangkan 

Menanamkan dan menerapkan KSE Mewujudkan

 Budaya positif 

Menciptakan merdeka belajar

3. Rencana Aksi Nyata

Aksi nyata yang saya lakukan yaitu dengan:

Rancangan program Sosialisasi kepada KS, wali kelas Guru dan karyawan Sosialisasi program dan rencana program kepada anak anak. Pelaksanaan kegiatan Evaluasi kegiatan

4. Deskripsi Aksi Aksi Nyata dilakukan dengan menerapkan KSE. KSE yang diterapkan yaitu tentang pengendalian diri dan membangun relasi. Penerapan KSE yaitu dengan: Rutin yakni sholat duha dan setoran bacaan pada pagi hari kemudian untuk anak yang kurang lancar mengaji dengan cara mengaji disimak Bapak / Ibu Guru Terintegrasi dalam mata pelajaran yakni dengan membangun apersepsi ketika memulai pembelajaran untuk menumbuhkan empati. Selanjutnya dengan menerapkan tehnik STOP kemudian dilanjutkan dengan refleksi tentang pembelajaran yang sudah saya lakukan dari murid

5. Refleksi 

Perencanaaan 

Untuk perencanaan saya sudah berusaha untuk menyiapkan perangkat pembelajaran yang dibutuhkan untuk aksi nyata 2,2 ini, Tetapi perubahan dari PTM  terbatas kemudian PJJ lagi ini  tentunya juga mempengaruhi persiapan yang harus dilakukan.

Pelaksanaan,

Untuk pelaksanaan semua secara garis besar sesuai dengan harapan yang ingin dicapai, Pembelajaran yang saya lakukan yaitu materi tentang teks persuasif untuk kelas VIII. Sebelum saya menyusun RPP saya memetakan pemetahaan kebutuhan belajar murid / Diferensiasi yakni dengan pemetaan kebutuhan belajar siswa yang saya mulai berdasarkan kesiapan  murid, minat murid  dan gaya belajar murid. Masing masing dalam kelompok mana yang sudah menguasai, mana yang kurang  menguasai dan mana yang belum menguasai tentang penulisan dari teks persuasi. Deferensiasi produk yang saya lakukan yaitu dengan saya memberi kebebasan kepada murid saya untuk menetukan apa hasil produk yang ingin dilaksanakan murid  ada yang membuat PPT sederhana ada PPT yang sudah bagus juga ada yang membuat persuasi dengan membuat video, untuk diferensiasi berdasarkan minat murid, Ada yang suka sepak bola ada yang suka memasak, membaca dan internet

Perasaan. 

perasaan saya melaksanakan Aksi Nyata ini adalah sangat khawatir dan tertantang. karena ini adalah aksi nyata yang saya laksanakan sebagai bentuk penerapan saya dalam PPGP ini tentunya khawatir bila saya  tidak mampu melaksanakan dan menyelesaika Aksi Nyata ini dengan lancar. Sedangkan perasaan anak anak sangat senang dengan Aksi Nyata ini karena baru pertama kali saya melakukan pembelajaran berdiferensiasi dan menerapkan tehnik STOP ini biasanya saya hanya menerapkan ice breaking untuk menhilangkan capai dan penat.  Tertantang karena KSE dan PSE ini merupakan pengetahuan yang baru saya dapat sehingga saya harus belajar untuk mendapatkan hasil yang maksimal,

Rencana Perbaikan untuk pembelajaran selanjutnya

Saya akan melakukan perbaikan pembelajaran utamanya dalam perangkat pembelajaran. Belum bisa menerapakan pembelajaran berdiferensiasi dan PSE  saya juga belum memetakan kebutuhan belajar murid. PSE dan KSE yang saya lakukan tidak saya tulis dalam RPP saya maka saya perlu menuliskan agar lebih jelas. Selanjutnya saya akan mengajak teman saya meski hanya beberapa rekan sejawat untuk mengenalkan pembelajaran berdiferensiasi, dan KSE.

Dokumentasi kegiatan









Selasa, 22 Februari 2022

 KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.1

PEMBELAJARAN BERDEFERENSIASI


https://www.canva.com/design/DAE5IRaZSrU/E9FpNkeGoPmfgiIpG-Yb-A/view?utm_content=DAE5IRaZSrU&utm_campaign=designshare&utm_medium=link&utm_source=publishsharelink







ERNI NURNANINGSIH

 SMP MUH NGLUWAR CGP ANGKATAN 4 KAB. MAGELANG


01. Pemikiran KHD

Seorang pendidik dalam memberikan pengajaran dan pendidikan kepada murid harus memperhatikan .  dua  hal yakni kodrat alam dan kodrat zaman, dengan mendasari diri sebagai pamong yang menuntun  

Serupa seperti para pengukir yang memiliki pengetahuan mendalam tentang keadaan kayu, jenis jenisnya,keindahan ukiran, dan cara cara mengukirnya. Seperti itulah seorang guru seharusnya memiliki pengetahuan mendalam tentang seni mendidik. Bedanya, guru mengukir manusia memiliki hidup lahir dan batinhatikan


02. Pengertian Pembelajaran Berdeferensiasi

Merupakan suatu pembelajaran yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan belajar murid dengan berbagai kesiapan, minat dan profil belajar murid yang berbeda. Sehingga semua kebutuhan murid dapat dipenuhi.


03.Kebutuhan Murid

1. .Kesiapan murid yaitu kemampuan murid dalam mempelajari materi 

2. Minat murid yaitu keinginan dan dorongan murid terhadap sesuatu.

 3.Profil belajar murid adalah pendekatan yang disukai murid dalam belajar yang dipengaruhi oleh gaya berpikir, kecerdasan, budaya, latar belakang, jenis kelamin dll

04. Strategi Defrensiasi.

Deferensiasi konten yaitu materi harus diberikan kepada murid dengan memperhatikan pemenuhan kebutuhan belajar murid' 

Deferensiasi proses adalah upaya kita memberikan suatu pemahaman dari materi yang diberikan oleh guru dirancang sedeikian rupa agar murid bisa terpenuhi semua kebutuhanya dengan mengikuti proses yang berbeda. 

Deferensiasi produk memberikan tagihan atau penilaian yang berbeda sesuai dengan kebutuhan mereka.

05. Langkah langkah umtuk menjalankan

Memilih KD Menentukan tujuan pembelajaran 

Memetakan kebutuhan belajar murid 

 Menyusun RPP berdeferensiasi 

Menentukan penilaian yang sesuai


06. Keterkaitan Antar Materi

Memenuhi kebutuhan belajar murid

 Menciptakan Budaya Positif 

Pembelajaran aman dan nyaman 

Mengundang pembelajaran yang menyenangkan